Homepage Widgets (ATF)

Homepage Widgets

Harga Sawit di Abdya Anjlok Jelang Idul Adha, Petani Tercekik Biaya Produksi

Harga kelapa sawit di Aceh Barat Daya anjlok jelang Idul Adha. Petani mengeluhkan tingginya biaya produksi di tengah turunnya harga jual.

Menjelang perayaan Idul Adha 1447 Hijriah, petani dan pedagang kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat Daya dihadapkan pada tren penurunan harga jual.

Ilustrasi. Foto: IST

KUALA BATEE — Selama dua hari berturut-turut, harga tandan buah segar di tingkat pabrik anjlok dari Rp 2.800 menjadi Rp 2.500 per kilogram. Kondisi tersebut mulai dirasakan cukup signifikan oleh para pelaku usaha perkebunan di daerah itu. 

Hamidi Rasyid, salah seorang pedagang sawit di Gampong Ie Mameh, Kecamatan Kuala Batee, mengungkapkan bahwa penurunan harga terjadi secara bertahap setiap malam.

"Hari ini harga sawit di pabrik Rp 2.500 per kilogram, kemarin Rp 2.800. Biasanya harga mencapai Rp 3.000," ujar Hamidi, Jumat (22/5/2026). Ia merinci, pada malam pertama harga turun sebesar Rp 300, dan kembali merosot Rp 200 pada malam berikutnya.

Meskipun harga di tingkat pabrik menurun, Hamidi menyebutkan bahwa petani masih bisa mengantongi hasil bersih sekitar Rp 1.900 per kilogram. Akan tetapi, tren penurunan harga yang terus terjadi belakangan ini memunculkan kekhawatiran tersendiri.

"Meskipun harga turun, petani masih ada hasil. Tapi yang menjadi masalahnya hampir tiap malam harga turun," tuturnya.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Saat ini, para petani harus menanggung beban ganda akibat melonjaknya biaya produksi. Harga pupuk dan obat-obatan pertanian terus merangkak naik, sejalan dengan bertambahnya ongkos perawatan kebun dan upah pekerja.

Di tengah situasi yang tidak menguntungkan ini, petani tidak memiliki banyak pilihan. Mereka harus memanen buah sawit yang sudah matang agar kualitasnya tidak menurun atau membusuk di pohon.

"Meskipun harga murah, panennya tetap panen, kalau sudah sampai waktu," kata Hamidi.

Para petani dan pedagang kini hanya bisa berharap agar ada langkah penstabilan harga agar mereka tidak terus dibebani ketidakpastian. 

Ketimpangan antara harga jual dan tingginya biaya operasional dinilai sangat menekan perekonomian masyarakat petani di desa.

"Harapan saya harga sawit stabil, jangan turun-turun harga. Apalagi sekarang harga pupuk, obat-obatan, biaya perawatan, hingga ongkos panen sudah meningkat," harapnya.