Homepage Widgets (ATF)

Homepage Widgets

Sarasehan Budaya, ACTION Dorong Pemuda Abdya Jadi Garda Pelestari Budaya Aceh

ACTION Abdya menggelar Sarasehan Budaya guna mendorong generasi muda menjaga bahasa, sejarah, dan identitas budaya Aceh.

Komunitas Aceh Culture and Education (ACTION) menggelar Sarasehan Budaya memperingati sembilan tahun berdirinya organisasi tersebut di Aula Grand Ariesta Hotel Blangpidie, Rabu (20/5/2026). Kegiatan bertema “Menjaga dan Merawat Budaya di Aceh Barat Daya (Abdya)” itu menyoroti semakin lemahnya kepedulian generasi muda terhadap budaya dan bahasa daerah.

Essi Hermalita, Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh sedang memaparkan materi di acara Sarasehan Budaya HUT Ke-9 ACTION, Blangpidie, Rabu (20/5/2026)

BLANGPIDIE - Sarasehan tersebut menjadi ruang diskusi antara pegiat budaya, akademisi, pemerintah daerah, dan kalangan muda untuk membahas ancaman hilangnya identitas budaya Aceh akibat pengaruh globalisasi dan perubahan sosial masyarakat.

Ketua panitia, Hasanul Amri, mengatakan pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada generasi tua. Menurut dia, anak muda harus menjadi garda terdepan dalam menjaga tradisi, bahasa, dan sejarah lokal.

“Untuk peduli budaya tidak mesti menunggu usia kita tua,” kata Hasanul.

Ia menilai budaya Aceh saat ini menghadapi tantangan serius karena semakin minimnya ruang pewarisan tradisi di tengah masyarakat. Kondisi itu terlihat dari menurunnya minat generasi muda terhadap bahasa daerah dan sejarah lokal.

“Tidak ada yang bisa kita banggakan kepada orang luar selain budaya kita. Kalau anak muda tidak peduli, budaya itu perlahan akan hilang,” ujarnya.

Ketua ACTION, Aris Faisal Djamin, mengatakan organisasi yang lahir pada 2 Mei 2017 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional itu sejak awal dibentuk sebagai ruang pendidikan dan gerakan kebudayaan bagi generasi muda Aceh.

Menurut Aris, budaya tidak hanya dimaknai sebagai kesenian atau adat istiadat, tetapi juga mencakup bahasa, nilai hidup, dan cara pandang masyarakat yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, pelestarian budaya harus dilakukan melalui penguatan literasi sejarah dan bahasa daerah.

Ia menyebut ACTION juga aktif mendorong pelestarian sejarah daerah, termasuk mengusulkan Teuku Ben Mahmud sebagai Pahlawan Nasional pada 2023 serta menghimpun pemuda Barat Selatan Aceh pada 2025 untuk membahas kekayaan budaya dan bahasa lokal.

Narasumber kegiatan, Essi Hermalita, Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh Kementerian Kebudayaan RI, menegaskan budaya tidak akan bertahan tanpa keterlibatan generasi muda.

"Pelestarian budaya harus dimulai dari kesadaran masyarakat sendiri. Ketika anak muda mau mengenal bahasa, sejarah, dan tradisinya, maka identitas budaya Aceh akan tetap hidup,” kata Essi.