Literasi di Aceh Barat Daya, Antara Harapan dan Kenyataan
Berapa banyak toko buku yang ada di Aceh Barat Daya (Abdya)? Jawabannya belum ada—dulu pernah ada, namun kemudian memilih untuk tutup karena berdamai dengan keadaan. Mungkin kita akan berpendapat bahwa buku saat ini telah dibeli secara online.
![]() |
| Ikhwanul Muslim, S.Pd., M.Pd |
BLANGPIDIE — Namun, keberadaan warung kopi, toko kelontong, toko baju, bahkan toko bangunan masih berdiri kokoh di Aceh Barat Daya. Ini menjelaskan kepada kita bahwa relasi kita dengan buku belum menjadi kebutuhan. Kemudian jika kita bertanya berapa orang Aceh Barat Daya yang telah menerbitkan buku, baik perseorangan maupun berkelompok, jawabannya ada.
Meskipun jumlahnya bisa dihitung dengan jari, hal ini juga menjadi sinyal bahwa literasi di kampung kita, Kabupaten Abdya yang sering dijuluki Bumoe Breuh Sigupai, belum mencapai keadaan yang menggembirakan. Andrea Hirata adalah sosok ideal untuk mencontohkan literasi. Dengan novel Laskar Pelangi, ia telah menyihir berjuta manusia untuk membaca.
Bahkan novel itu telah menjadi bagian dari internasional best seller dan diterjemahkan ke dalam 40 bahasa asing guna menjangkau dahaga pembaca dari berbagai penjuru dunia. Dari Andrea, kita belajar bagaimana kata-kata mempunyai nilai magis yang menyihir setiap jiwa untuk terus membaca, memahami, bahkan menghayati cerita tersebut. Mengangkat cerita berlatar daerah Belitong, ia kemudian bertutur seolah-olah kejadiannya sangat dekat dengan kita.
Setiap pembaca akan dibawa mengenal Belitong dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bahkan, novel ini kemudian diadaptasikan dalam bentuk film. Video klip dari grup Nidji yang menjadi soundtrack film ini menghadirkan pemandangan Belitung yang diceritakan oleh Andrea. Andrea tidak hadir dari ruang yang kosong—dia merupakan alumni Universitas Indonesia.
Kemudian, ia mendapat beasiswa dari Uni Eropa untuk studi master of science di Universite de Paris, Sorbonne Prancis, dan Sheffield Hallam University, Inggris. Dari sini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa literasi diproduksi dari pendidikan yang bagus, sehingga kemudian bermuara dalam menghadirkan proses kreatif yang berdampak panjang dan abadi.
Literasi, jika kita tilik dari KBBI, adalah kemampuan dan keterampilan individu dalam berbahasa yang meliputi membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut hasil studi PISA, skor untuk domain membaca Indonesia terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Terakhir pada tahun 2022, skor PISA untuk komponen membaca hanya 359 poin—skor terendah yang pernah didapatkan Indonesia sejak tahun 2006. Tidak terlalu berlebihan seperti yang diungkapkan oleh Gita Wirjawan, pemilik podcast Endgame, dalam dialognya bahwa kita kekurangan narator untuk menceritakan bagaimana Indonesia.
Hal ini dapat diterima dengan melihat bagaimana korelasi antara jumlah penduduk Indonesia dengan buku yang dibaca. Berdasarkan laporan World Population Review 2024, Indonesia menempati peringkat ke-30 di dunia terkait rata-rata jumlah buku yang dibaca per orang per tahun, dengan rata-rata 5,91 buku per orang. Adapun alokasi waktu membaca tahunannya hanya sekitar 129 jam. Namun, ini akan berbeda cerita ketika kita berbicara dalam lanskap Aceh Barat Daya—mungkin ada penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak pernah membaca satu pun buku selama satu tahun.
Yang paling kita khawatirkan, meskipun belum ada penelitian, adalah kemungkinan adanya guru yang tidak pernah membaca satu pun buku di luar pelajaran yang diajarkannya selama satu tahun. Sementara itu, jika dilihat dari seberapa banyak waktu yang dihabiskan dalam bermain gadget, lansir We Are Social 2025, Indonesia rata-rata menghabiskan waktu sekitar 4 jam 38 menit per hari. Dalam berselancar di dunia maya tersebut, banyak waktu dihabiskan untuk hal-hal yang kurang produktif.
Menurut data BPS tahun 2025, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Kabupaten Aceh Barat Daya mempunyai nilai 5,4500. Data ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan Kota Banda Aceh 17,3700, Nagan Raya 7,0800, dan Aceh Selatan 8,2400. Sementara untuk Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat Kabupaten Aceh Barat Daya tahun 2025, yaitu 23,99, juga masih rendah dari kabupaten lainnya.
Kemampuan literasi murid dapat dilihat dari hasil capaian Rapor Pendidikan Data 2025 yang berasal dari Asesmen Nasional. Aceh Barat Daya memperoleh kategori literasi sedang untuk jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK. Kategori sedang berarti 40,00%–75,00% murid mencapai kompetensi minimum literasi. Capaian tersebut masih mempunyai catatan: untuk tingkat SD dan SMA menurun dari tahun sebelumnya, sedangkan SMP dan SMK naik dari tahun sebelumnya.
Untuk meningkatkan literasi, khususnya pada kalangan pelajar di Bumoe Breuh Sigupai ini, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan.
Pertama, Dinas Pendidikan Aceh Barat Daya tidak dapat hanya mengandalkan program 15 menit sebelum masuk kelas. Literasi harus digarap secara serius, diprogramkan secara matang oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan secara terstruktur dan terukur.
Instruksi ke sekolah harus jelas, dengan memasukkan literasi baik melalui kurikuler maupun ekstrakurikuler. Dari segi guru, harus diadakan penguatan cara mengajar literasi, terutama untuk guru pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan demikian, guru mampu mengajar siswa dengan berbagai teknik membaca yang menarik, membuat sinopsis, menceritakan kembali apa yang telah dibaca, hingga melakukan evaluasi terhadap bacaan—akhirnya siswa diajak membuat produk berupa keahlian dalam menulis buku atau makalah.
Dari sisi sarana, sekolah harus menyediakan buku bacaan yang menarik serta bermutu. Buku-buku sastra dapat memancing minat siswa untuk membaca dibandingkan buku teks pelajaran yang membosankan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dapat mengadakan kerja sama dengan Pustaka Daerah untuk mengadakan kunjungan ke perpustakaan paling tidak satu bulan sekali. Hal ini dapat memancing minat siswa untuk dekat dengan buku.
Kedua, reposisi fungsi Perpustakaan Daerah. Dinas Arsip dan Pustaka Aceh Barat Daya saat ini harus diakui telah mempunyai tempat yang representatif dengan ruangan nyaman untuk melakukan aktivitas membaca. Namun, perpustakaan harus didorong bukan hanya sebagai "gudang" penyimpanan buku, tetapi harus menjadi pusat kegiatan literasi. Berbagai program yang lebih revolusioner mesti ditempuh karena minat baca yang masih rendah.
Perpustakaan harus bisa memikat konsumennya untuk berbelanja ilmu, mulai dari penyediaan buku yang lengkap hingga akses buku digital. Meskipun buku keliling selama ini telah dilakukan dengan baik, Perpustakaan Daerah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dapat melakukan program menjemput kunjungan siswa, mulai dari Ujong Babahrot hingga Lembah Sabil, dengan menyediakan armada antarjemput. Selain itu, perpustakaan bisa dikembangkan menjadi ruang aman dan nyaman untuk publik, tidak sekadar tempat membaca.
Perpustakaan juga bisa menjadi tempat berkumpul, mengerjakan tugas, hingga menjadi tempat seru yang mewadahi berbagai kegiatan literasi. Event-event yang bersifat lomba juga dapat menyuburkan minat siswa dalam berkunjung ke perpustakaan.
Ketiga, belajar langsung dari penulis. Proses manusia belajar dimulai dari meniru—demikian juga dengan menulis. Kita akan lebih termotivasi apabila yang memberikan materi tersebut adalah penulis buku yang terkenal. Kehadiran pemateri tingkat nasional yang telah mempunyai karya dalam menulis dapat membangkitkan imajinasi dan hasrat untuk menulis seperti mereka. Pemerintah dapat melakukan workshop kepenulisan dengan mendatangkan, misalnya, Andrea Hirata, Tere Liye, atau Asma Nadia dalam genre fiksi. Sedangkan untuk tulisan yang bersifat akademik, misalnya untuk guru, dapat dilakukan dengan kerja sama dengan pihak universitas sebagai pemateri.
Keempat, beri penghargaan kepada penulis. Adalah suatu kebanggaan bagi setiap penulis apabila karyanya diberikan apresiasi. Pemerintah dapat membantu penulis untuk menerbitkan karya-karyanya.
Di samping itu, para penulis tentu akan sangat termotivasi apabila diberikan penghargaan ataupun insentif terhadap karya yang dihasilkan. Ini akan berdampak pada semangat para pelajar ataupun khalayak umum untuk terus berkarya dan mengobarkan semangat menulis.
Kelima, bekerja sama dengan komunitas. Harus kita sadari, komunitas dalam hal membaca dan menulis sangat minim jumlahnya di Aceh Barat Daya. Pemerintah dapat memberikan sokongan dalam bentuk dana hibah untuk memperkuat keberadaan komunitas ini.
Banyak program-program yang dapat mereka lakukan untuk menutup celah yang tidak terjangkau oleh pemerintah. Komunitas mempunyai cara kerja yang berbeda dengan pemerintah, terutama dalam militansi bekerja.
Para relawan bergerak dengan semangat tanpa pamrih dan saling berbagi tanggung jawab untuk mencerdaskan generasi. Kita berharap adanya sinergi antara pemerintah dan komunitas dapat menguatkan literasi. Literasi adalah sebuah budaya yang perlu usaha untuk menghidupkannya.
Orang tua, masyarakat, maupun pemerintah mempunyai tanggung jawab masing-masing sesuai perannya dalam menggerakkan literasi. Kita merindukan masyarakat di Bumoe Breuh Sigupai tidak aneh melihat orang membaca di warung kopi, sebagaimana kita tidak aneh melihat orang menikmati kopi sambil menatap layar gawainya.
Pada saatnya tiba, akan ada Andrea Hirata dari Abdya yang akan bercerita tentang indahnya Pante Jilbab, Pulau Gosong, atau Ceurace dalam ceritanya—di mana sang penulis juga lulusan Sorbonne Prancis.
Editor: Muhammad

Posting Komentar