check_circle

Sukses!

Artikel berhasil diproses.

Apresiasi

Apresiasi Anda adalah napas bagi jurnalisme independen. Dukung kami untuk merawat kebenaran.

Transfer Virtual Account:

706085370103617

Pemberitahuan

Belum ada interaksi terbaru.

Messi 'Anak Emas' FIFA? Analisis Perbandingan Perlakuan Wasit dengan Balogun di Piala Dunia 2026

Narasi bahwa Lionel Messi adalah 'anak emas' FIFA kembali mencuat dan menjadi perbincangan hangat di kalangan pencinta sepak bola global. Label ini sering kali dilemparkan oleh netizen setiap kali megabintang Argentina tersebut mendapatkan keputusan yang dianggap menguntungkan di lapangan, atau saat ia memenangkan penghargaan individu bergengsi.

Messi 'Anak Emas' FIFA? Analisis Perbandingan Perlakuan Wasit dengan Balogun di Piala Dunia 2026
llustrasi Lionel Messi /abdyatimes

— Namun, apakah tuduhan ini berbasis fakta atau sekadar bias dari para pembenci? Untuk mengujinya secara adil, kita bisa membandingkan bagaimana otoritas sepak bola dan wasit memperlakukan Messi dalam situasi pelanggaran keras di turnamen besar, dibandingkan dengan pemain muda seperti Folarin Balogun.

Tuduhan bahwa FIFA mengistimewakan Messi mencapai puncaknya pada Piala Dunia 2022 di Qatar, di mana Argentina mendapatkan total 5 penalti—sebuah rekor tertinggi dalam satu edisi turnamen. Memasuki Piala Dunia 2026, narasi ini bukannya mereda justru makin memanas akibat kontroversi terbaru di lapangan. Ada beberapa faktor utama yang memperkuat narasi 'hak istimewa'. Messi jarang sekali mendapatkan kartu merah langsung, bahkan untuk pelanggaran atau reaksi emosional yang jika dilakukan pemain lain mungkin berbuah hukuman berat. Keputusan peninjauan teknologi yang sering kali dianggap 'melunak' ketika melibatkan sang kapten Argentina. Namun, benarkah wasit tebang pilih? Mari kita lihat komparasi nyata lewat fakta baru di lapangan hijau.

Untuk melihat apakah ada standar ganda, kita bisa membandingkan bagaimana perlakuan wasit terhadap pelanggaran keras terbaru yang melibatkan Messi dengan insiden kartu merah yang menimpa penyerang timnas Amerika Serikat, Balogun. Ketika Balogun atau pemain muda lainnya melakukan pelanggaran keras dari belakang, wasit modern yang dibantu teknologi VAR biasanya langsung menjatuhkan hukuman maksimal: Kartu Merah Langsung. Wasit cenderung tidak berkompromi dengan pemain muda demi menjaga kendali permainan dan menegakkan rulebook secara kaku.

Kontroversi terbesar yang dinilai netizen sebagai bukti nyata 'perlindungan FIFA' terjadi pada Piala Dunia 2026 dalam laga perdana Grup J antara Argentina vs Aljazair. Di tengah laga tersebut, Lionel Messi melakukan sebuah tekel ceroboh dari belakang saat mencoba merebut bola dari bek Aljazair, Aissa Mandi. Dalam tayangan ulang dan foto yang beredar luas, terlihat jelas pul sepatu kiri Messi menginjak bagian belakang betis dan kaki Aissa Mandi dengan posisi kaki yang cukup tinggi. Pelanggaran fatal seperti ini biasanya berujung pada kartu merah langsung demi melindungi keselamatan pemain. Namun yang terjadi justru mengejutkan: Wasit utama, Szymon Marciniak, hanya meniup peluit tanda pelanggaran tanpa mengeluarkan kartu kuning sama sekali. Protokol VAR pun tetap diam dan tidak melakukan intervensi mendalam untuk meminta wasit melihat monitor. Messi terbebas dari hukuman, tetap bermain, dan bahkan sukses mencetak hat-trick di laga tersebut. Momen ini langsung memicu kemarahan fans di media sosial yang menuduh turnamen telah diatur dan Messi sengaja dilindungi.

Mengapa Messi terkesan 'diistimewakan'? Beberapa legenda sepak bola, seperti Thierry Henry, membela Messi dengan berargumen bahwa dalam kasus vs Aljazair, Messi tidak memiliki niat buruk untuk mencederai dan hanya fokus pada bola. Namun secara sosiologi sepak bola dan psikologi wasit, ada alasan kuat mengapa Messi tampak selalu diuntungkan. Faktor pertama adalah reputasi: Wasit adalah manusia biasa. Menjatuhkan kartu merah kepada ikon terbesar sepak bola dunia di tengah panggung Piala Dunia membutuhkan keberanian luar biasa. Ada tekanan psikologis bawah sadar untuk menjaga 'daya tarik utama' turnamen tetap berada di lapangan. Faktor kedua adalah gaya bermain yang bersih: Berbeda dengan Balogun yang mengandalkan fisik dan agresivitas tinggi, Messi secara historis adalah pemain yang jarang melakukan pelanggaran kasar. Reputasi sebagai 'pemain bersih' ini sering kali membuat wasit memberikan dispensasi atau menganggap pelanggaran kerasnya sebagai ketidaksengajaan belaka.

Menyebut Messi sebagai 'anak emas' FIFA dalam bentuk konspirasi hitam di atas kertas tentu sulit dibuktikan. FIFA menggunakan perangkat pertandingan berlisensi profesional yang diawasi ketat. Namun, insiden lolosnya Messi dari kartu merah setelah menginjak betis pemain Aljazair di Piala Dunia 2026 menjadi bukti tak terbantahkan adanya hak istimewa tidak tertulis (unwritten privilege). Ketika pemain muda seperti Folarin Balogun harus menerima hukuman kaku sesuai dengan buku aturan, megabintang sekelas Messi sering kali mendapatkan 'kebaikan hati' dari wasit karena status legendarisnya. Sepak bola adalah bisnis hiburan, dan sang raja magnet utama visual tampaknya selalu memiliki ruang toleransi yang jauh lebih longgar.