×

Apresiasi

Apresiasi Anda adalah napas bagi jurnalisme independen. Dukung kami untuk merawat kebenaran.

Transfer Virtual Account:

706085370103617

Perempuan Mengaji, Prof Casmini Ajak ‘Aisyiyah Abdya Jadi Arsitek Perdamaian

Prof. Casmini mengajak ‘Aisyiyah Abdya menjadi arsitek perdamaian melalui dakwah kemanusiaan di tengah berbagai tantangan sosial masyarakat.

Pimpinan Daerah (PD) ‘Aisyiyah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menggelar Pengajian Akbar dalam rangka Milad ke-109 ‘Aisyiyah di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Blangpidie, Sabtu (13/6/2026). Kegiatan bertema “Perempuan Menebar Rahmat, Aceh Barat Daya Menguatkan Perdamaian” itu menyoroti peran strategis perempuan dalam membangun kehidupan yang damai di tengah meningkatnya berbagai persoalan sosial.

Prof. Dr. Casmini sedang menyampaikan tausiyahnya dalam acara Milad Ke-109 'Aisyiah, Blangpidie, Sabtu (13/6/2026).

BLANGPIDIE - Pengajian menghadirkan Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Prof. Dr. Casmini, S.Ag., M.Si., yang juga asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) serta fasilitator nasional. Acara dipandu oleh moderator Rismanidar, S.Pd.I., MA., mantan Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah Abdya.

Dalam tausiyahnya, Casmini menegaskan bahwa pengajian merupakan ruh gerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Karena itu, menurut dia, ‘Aisyiyah menjadikan aktivitas tersebut sebagai bagian dari Gerakan Perempuan Mengaji yang berorientasi pada penguatan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

“Ruh kita di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah itu adalah pengajian. Karena itu di ‘Aisyiyah dikenal Gerakan Perempuan Mengaji,” kata Casmini di hadapan ratusan peserta.

Ia menjelaskan bahwa fondasi dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah bertumpu pada pesan Al-Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 107 yang menyebut Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Prinsip tersebut, kata dia, menempatkan dakwah sebagai upaya memuliakan manusia, menjaga kehidupan, menegakkan keadilan, menyebarkan perdamaian, dan menghapus permusuhan.

Menurut Casmini, perempuan memiliki posisi penting dalam agenda perdamaian. Ia mencontohkan sosok Ratu Bilqis yang dikisahkan dalam Surat An-Naml sebagai pemimpin perempuan yang mengedepankan diplomasi dan mampu mencegah konflik.

“Ratu Bilqis menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi arsitek perdamaian. Sejak masa lalu, perempuan memiliki kemampuan membangun dialog dan menghindarkan masyarakat dari perpecahan,” ujarnya.

Casmini juga menyoroti perubahan paradigma dakwah yang kini tidak lagi terbatas pada ceramah di mimbar atau aktivitas di rumah ibadah. Dakwah, kata dia, telah berkembang menjadi gerakan kemanusiaan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.

“Dakwah hari ini telah berevolusi dari mimbar ke aksi nyata. Menolong yang kesulitan, mendidik generasi, membela martabat manusia, hingga merawat lingkungan merupakan bagian dari dakwah,” katanya.

Ia menilai pesan perdamaian menjadi semakin relevan di tengah berbagai tantangan sosial yang muncul dalam kehidupan masyarakat. Konflik keluarga yang meningkat, maraknya hoaks dan ujaran kebencian di media sosial, krisis keteladanan, menguatnya individualisme, hingga kegelisahan mental di kalangan generasi muda menjadi persoalan yang perlu direspons secara serius.

“Realitas hari ini menunjukkan bahwa perdamaian bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan yang mendesak,” kata Casmini.