Produksi Minim, Petani Sawit Minta Pemkab Abdya Turunkan Penyuluh
Petani kelapa sawit di kawasan lahan gambut Kecamatan Kuala Batee dan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), berharap pemerintah lebih aktif memberikan penyuluhan dan pendampingan teknis guna meningkatkan produktivitas kebun rakyat yang saat ini masih tergolong rendah.
| Foto kebun sawit di lahan bergambut |
BLANGPIDIE - Salah seorang petani sawit, Imanuddin (68 tahun) mengatakan produksi kebun miliknya yang masa tanam 10 tahun seluas 2,5 hektare belum maksimal. Dalam satu kali panen yang dilakukan setiap 20 hari, hasil yang djiperoleh rata-rata hanya sekitar 1,5 ton tandan buah segar (TBS).
"Produksi sawit kami masih rendah. Banyak petani hanya menghasilkan sekitar 500 hingga 900 kilogram per hektare setiap panen, bahkan ada yang lebih sedikit. Kami membutuhkan penyuluhan tentang pemupukan, perawatan dan pengelolaan kebun di lahan gambut," ujar Imanuddin.
Kelapa sawit selama ini menjadi salah satu komoditas andalan masyarakat Abdya, terutama di Kecamatan Kuala Batee dan Babahrot yang dikenal sebagai sentra perkebunan sawit rakyat.
Data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Abdya mencatat luas kebun sawit rakyat di daerah tersebut mencapai sekitar 20 ribu hektare, dengan konsentrasi terbesar berada di Kuala Batee dan Babahrot. Dari jumlah tersebut, sekitar 16.740 hektare telah menghasilkan, sementara sisanya masih dalam tahap pertumbuhan.
Perkebunan sawit telah menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga petani dan menggerakkan perekonomian masyarakat di dua kecamatan tersebut. Bahkan, sektor sawit disebut mampu menghasilkan perputaran uang miliaran rupiah setiap hari di Abdya.
Namun di balik besarnya potensi tersebut, sebagian petani masih menghadapi berbagai kendala teknis. Sebagian besar areal perkebunan rakyat berada pada lahan gambut dan lahan rawa yang membutuhkan penanganan khusus, terutama dalam pengaturan tata air, pemupukan berimbang, pengendalian gulma serta pemeliharaan saluran drainase.
Menurut Imanuddin, minimnya penyuluhan lapangan membuat banyak petani mengandalkan pengalaman sendiri dalam mengelola kebun. Akibatnya, produktivitas tanaman belum sesuai dengan potensi yang seharusnya dapat dicapai.
"Kami berharap ada penyuluh yang rutin turun ke lapangan. Petani perlu belajar bagaimana merawat sawit di tanah gambut agar produksi meningkat dan biaya perawatan lebih efisien," katanya.
Para petani berharap pemerintah daerah melalui bidang perkebunan dapat memperkuat program penyuluhan, pelatihan budidaya sawit di lahan gambut, serta pendampingan penggunaan pupuk yang tepat. Dengan peningkatan pengetahuan petani, produksi kebun rakyat diharapkan dapat meningkat sehingga kesejahteraan masyarakat perkebunan juga ikut terdongkrak.
"Kalau perawatan dilakukan dengan benar dan ada pendampingan dari penyuluh, kami yakin hasil panen bisa jauh lebih baik dari sekarang," tutup Imanuddin.(HK)
Posting Komentar