Sigupai Tinggal 5 Hektare, Padi Ikonik Abdya Terancam Hilang dari Sawah
Padi Sigupai, varietas lokal yang selama ini dikenal sebagai salah satu identitas pertanian Aceh Barat Daya (Abdya), kini berada pada kondisi yang memprihatinkan.
| Ilustrasi padi Galur Sigupai varietas unggul Aceh Barat Daya |
BLANGPIDIE - Pada Musim Tanam Gadu tahun 2026, luas tanam padi yang terkenal dengan aroma pandan dan tekstur nasi yang khas itu dikabarkan hanya sekitar 5 hektare ditanam oleh petani di beberapa kawasan persawahan, dari luas sawah sekitar 7.153 hektar atau hanya 0,07 persen dari total areal persawahan yang ada di Kabupaten Aceh Barat Daya.
Jumlah tersebut terbilang sangat kecil untuk sebuah varietas yang selama ini disebut sebagai padi unggulan khas daerah.
“Musim Tanam Gadu tahun 2026 ini, penanaman padi khas unggulan Abdya itu tersebar dari beberapa areal persawahan dalam Kabupaten Abdya. Jika digabungkan semua ada lebih kurang 5 hektare,” kata Kepala Dinas Pertanian Abdya, Hendri Yadi, Senin (22/6/2026).
Data dari penyuluh pertanian menunjukkan hanya segelintir petani yang masih mempertahankan budidaya Sigupai. Sebagian besar petani telah beralih ke varietas lain yang dianggap lebih menguntungkan dari sisi produksi dan waktu panen.
Salah satu penyebab utama kurangnya minat petani menanam sigupai adalah karakter tanaman yang tergolong tinggi, mencapai 140 hingga 150 sentimeter. Selain itu, masa tanamnya juga relatif panjang, sekitar 120 hari hingga panen dan mencapai 6 bulan di lahan kering.
Di tengah tuntutan efisiensi usaha tani, banyak petani memilih varietas yang lebih pendek umur tanamnya sehingga dapat dipanen lebih cepat memungkinkan percepatan musim tanam berikutnya.
Lahmuddin (58), petani asal Kecamatan Setia yang mengaku pernah menanam Sigupai, mengakui kondisi tersebut.
“Kalau soal rasa dan aroma, Sigupai memang tidak kalah. Harumnya khas dan nasinya disukai masyarakat, tanamannya kokoh tidak mudah rebah, dan tahan penyakit. Tapi masa tanamnya lebih lama dibanding varietas lain. Banyak petani sekarang memilih yang lebih cepat panen,” ujarnya.
Menurut Lahmuddin, keberadaan Sigupai saat ini semakin jarang ditemui di sawah-sawah Abdya. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa varietas lokal yang menjadi warisan petani terdahulu itu perlahan akan hilang dari daerah asalnya sendiri.
“Kalau tidak dijaga, bisa saja suatu saat Sigupai hanya tinggal nama. Padahal ini warisan petani Abdya yang sudah dikenal sejak lama,” katanya.
Kondisi tersebut juga memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Di saat Sigupai sering disebut sebagai varietas unggulan dan identitas daerah, luas tanamnya justru terus menyusut dari tahun ke tahun.
Ironisnya, ketika nama Sigupai semakin sering digunakan sebagai simbol daerah, keberadaannya di lahan pertanian justru semakin langka. Sebagian masyarakat menilai pelestarian varietas lokal tidak cukup hanya melalui simbol dan promosi budaya, tetapi harus dibarengi dengan kebijakan yang mampu membuat petani kembali tertarik menanamnya.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Abdya menyatakan tidak tinggal diam. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga keberlangsungan varietas tersebut.
Selain menjadikan Sigupai sebagai ikon pertanian daerah, pemerintah juga telah meresmikan motif Batik Sigupai sebagai salah satu identitas budaya Abdya. Bahkan, pemerintah daerah juga menggagas pembangunan Tugu Sigupai di pusat Kota Blangpidie yang dirancang menyerupai bulir padi Sigupai.
Langkah tersebut menunjukkan adanya komitmen pemerintah untuk menjaga eksistensi dan memperkenalkan Sigupai sebagai salah satu kekhasan daerah kepada generasi mendatang.
Namun pemerintah menyadari bahwa pelestarian tidak cukup hanya melalui simbol budaya. Karena itu, inovasi di sektor pertanian juga terus dilakukan.
“Sekarang sudah ada perkembangan dan inovasi di Abdya. Pemerintah daerah sudah pernah melakukan beberapa langkah besar untuk melestarikan padi ini,” kata Hendri.
Menurutnya, pemerintah bersama pihak terkait telah mengembangkan turunan galur Sigupai yang diberi nama Sigupai Milenium dan Sigupai Genjah.
Kedua varietas tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan yang selama ini dihadapi petani. Selain tetap mempertahankan karakter unggulan Sigupai, masa panennya jauh lebih singkat, yakni sekitar 85 hari.
Melalui inovasi tersebut, pemerintah berharap karakter khas Sigupai tetap dapat dipertahankan, namun lebih sesuai dengan kebutuhan pertanian modern yang menuntut produktivitas dan efisiensi waktu tanam.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya menjadikan Sigupai sebagai simbol kebanggaan Abdya, tetapi memastikan varietas tersebut tetap hidup dan berkembang di hamparan sawah masyarakat. Sebab, ukuran keberhasilan pelestarian tidak hanya terlihat dari nama yang diabadikan pada batik atau monumen, melainkan dari seberapa luas padi Sigupai masih ditanam oleh petani di tanah kelahirannya sendiri. (HK)
Posting Komentar