Harga Ikan Tongkol dan Kembung di Abdya Stagnan, Cabai Rawit Masih Bertahan di Puncak
Harga dua komoditas protein utama masyarakat, yakni ikan tongkol dan ikan kembung, tercatat tidak mengalami perubahan signifikan di pasar tradisional Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) pada awal pekan ini. Berdasarkan data pantauan harga resmi GPR Aceh yang diperbarui untuk periode 12 hingga 13 Juli 2026, harga ikan laut per kilo untuk kedua jenis ikan tersebut masih bertahan di angka Rp35.000 per kilogram. Stabilitas harga ikan per kg ini menjadi kabar cukup melegakan di tengah tekanan harga sejumlah bumbu dapur yang masih menunjukkan tren tinggi.
|
| Ilustrasi harga ikan di pasar Kabupaten Aceh Barat Daya. |
BLANGPIDIE - Meski harga ikan yang murah atau relatif terjangkau ini tidak bergerak, daya beli masyarakat tetap harus diuji oleh lonjakan harga komoditas penyedap masakan. Cabai rawit merah misalnya, masih bertengger di level tertinggi dengan harga mencapai Rp60.000 per kilogram, sementara cabai merah keriting dibanderol Rp50.000 per kilogram. Kondisi ini membuat pengeluaran rumah tangga untuk lauk pauk dan bumbu dapur menjadi tidak seimbang, di mana harga ikan di pasar justru lebih stabil dibandingkan komoditas hortikultura.
Dari sisi protein hewani lainnya, harga daging ayam ras tercatat di angka Rp37.500 per kilogram, hanya terpaut tipis di atas harga ikan laut per kilo. Sementara itu, telur ayam ras dijual dengan harga Rp26.667 per kilogram, menjadi alternatif sumber protein yang lebih ekonomis bagi warga Abdya. Perbandingan harga ini menunjukkan bahwa konsumen masih memiliki opsi untuk beralih ke komoditas lain jika pasokan ikan segar mulai menipis.
Di sektor kebutuhan pokok lainnya, harga beras premium masih stabil di Rp16.500 per kilogram, sedangkan beras medium non SPHP berada di angka Rp15.000 per kilogram. Kehadiran beras SPHP yang dibanderol Rp13.000 per kilogram menjadi penyeimbang bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk tetap bisa mengakses pangan pokok dengan harga terjangkau. Stabilitas harga beras ini menjadi fondasi utama ketahanan pangan rumah tangga di Abdya meskipun tekanan inflasi dari sektor bumbu masih terasa.
Sementara itu, harga minyak goreng kemasan premium tercatat Rp25.000 per liter, lebih mahal dibandingkan minyak goreng curah yang hanya Rp18.000 per liter. Minyakita yang merupakan program minyak goreng rakyat juga masih dijual sesuai harga eceran tertinggi, yakni Rp20.000 per liter. Perbedaan harga ini mendorong sebagian besar pedagang dan ibu rumah tangga untuk lebih selektif dalam memilih jenis minyak goreng demi menekan biaya dapur harian.
Dari data yang dirilis, harga bawang putih bonggol masih menjadi salah satu yang paling memberatkan, yakni Rp45.000 per kilogram, sementara bawang merah bertahan di Rp28.000 per kilogram. Kedua komoditas ini merupakan bumbu dasar yang sulit dihindari dalam masakan sehari-hari, sehingga kenaikan atau stagnasinya di level tinggi langsung berdampak pada ongkos produksi usaha mikro kuliner. Para pedagang di pasar tradisional pun mulai mengurangi pembelian dalam jumlah besar untuk mengantisipasi risiko kerugian jika permintaan menurun.
Secara keseluruhan, dinamika harga sembako di Abdya pada pekan ini menunjukkan pola yang beragam, dengan kategori lauk yang cenderung stabil namun bumbu dapur yang masih panas. Pemerintah daerah diharapkan dapat terus mengoptimalkan operasi pasar untuk menekan harga cabai dan bawang, sembari menjaga agar harga ikan laut per kilo tidak ikut merangkak naik akibat kenaikan biaya distribusi. Masyarakat pun diimbau untuk bijak berbelanja dengan memanfaatkan komoditas substitusi yang harganya masih bersahabat di pasar.
Posting Komentar