Junadi Harap Sekolah di Aceh Barat Daya Perkuat Edukasi Anti-Bullying Jelang Tahun Ajaran Baru
Jelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027, Junadi berharap seluruh sekolah di Aceh Barat Daya memperkuat edukasi anti-bullying. Hal itu disampaikan agar siswa merasa aman dan nyaman saat mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Selasa (7/7/2026).
![]() |
| Foto: Junaidi fajar, S.Pd ( Pemuda Alue Padee) |
JAKARTA — Junadi menilai masa awal masuk sekolah merupakan periode rawan terjadinya perundungan antar siswa. Bentuk perundungan tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga verbal dan melalui media sosial seperti grup WhatsApp kelas. "Kami tidak ingin ada lagi siswa yang trauma hanya karena hari pertama sekolah," ujarnya.
Ia meminta sekolah-sekolah menyediakan materi anti-bullying sebagai bagian wajib dalam MPLS tahun ini. Edukasi yang diberikan harus menyentuh empati, saling menghargai perbedaan, dan bahaya penyebaran konten negatif. "Jangan sampai MPLS berubah jadi ajang perpeloncoan atau senioritas," tegasnya.
Untuk mencegah kenakalan remaja, Junadi mengusulkan agar sekolah mengganti tradisi perpeloncoan dengan kegiatan yang lebih membangun. Ia mencontohkan program "Sahabat Baru", mentoring antar siswa, serta pengenalan ekstrakurikuler. Menurutnya, energi siswa perlu disalurkan ke kegiatan positif seperti Pramuka, PMR, olahraga, dan seni.
Peran Guru Bimbingan Konseling juga menjadi perhatian. Junadi berharap guru BK aktif menyampaikan materi tentang ciri-ciri korban bullying, dampaknya terhadap mental dan nilai siswa, serta jalur pengaduan yang aman. Kotak pengaduan di sekolah, kata dia, harus benar-benar ditindaklanjuti. "Anak harus berani lapor kalau jadi korban," ujarnya.
Selain sekolah, Junadi menyoroti pentingnya peran orang tua di rumah. Ia meminta orang tua di Aceh Barat Daya aktif mengawasi penggunaan ponsel anak. Cyberbullying disebutnya sering berawal dari konten prank, tantangan, atau komentar di TikTok dan Instagram. "Komunikasi 10 menit tiap hari dengan anak itu penting untuk deteksi dini," katanya.
Junadi juga mendorong kolaborasi antara sekolah dengan P2TP2A Aceh Barat Daya untuk memberikan sosialisasi langsung kepada siswa. Dengan begitu, siswa memahami konsekuensi dari tindakan bullying, tawuran, dan pemalakan. Ia menutup dengan mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh Barat Daya menciptakan "Sekolah Ramah Anak". "Mari kita sambut tahun ajaran baru dengan rasa aman, bukan rasa takut," ujarnya.

Posting Komentar