check_circle

Sukses!

Artikel berhasil diproses.

Apresiasi

Apresiasi Anda adalah napas bagi jurnalisme independen. Dukung kami untuk merawat kebenaran.

Transfer Virtual Account:

706085370103617

Pemberitahuan

Belum ada interaksi terbaru.

Mengenal Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional dan Warisan Filosofinya

Nama Ki Hadjar Dewantara identik dengan sejarah pendidikan Indonesia. Sosok yang dihormati sebagai Bapak Pendidikan Nasional ini adalah pejuang kemerdekaan, jurnalis, dan pemikir yang membangun fondasi sistem pendidikan nasional.

Mengenal Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional dan Warisan Filosofinya
Ilustrasi Ki Hadjar Dewantara /abdyatimes

— Melalui gagasannya, Ki Hadjar Dewantara berjuang untuk pendidikan yang bisa diakses seluruh rakyat tanpa memandang status sosial. Pemikirannya masih menjadi pedoman dunia pendidikan Indonesia hingga saat ini.

Ki Hadjar Dewantara lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat pada 2 Mei 1889 di lingkungan Keraton Pakualaman, Yogyakarta. Ia berasal dari keluarga bangsawan Jawa, tetapi memilih mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan hak rakyat memperoleh pendidikan yang layak.

Tanggal kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei.

Sebelum dikenal sebagai tokoh pendidikan, Ki Hadjar Dewantara adalah seorang jurnalis dan aktivis politik yang vokal mengkritik pemerintahan kolonial Belanda. Pada 1912, ia bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo mendirikan Indische Partij, salah satu organisasi politik pertama yang secara terbuka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Tulisan kritisnya berjudul "Als Ik Eens Nederlander Was" (Seandainya Aku Seorang Belanda) membuat pemerintah kolonial marah. Akibatnya, Ki Hadjar Dewantara diasingkan ke Belanda pada 1913.

Masa pengasingan dimanfaatkannya untuk mempelajari berbagai sistem pendidikan modern di Eropa. Setelah kembali ke Indonesia, ia mendirikan Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta pada 3 Juli 1922.

Lembaga pendidikan itu bertujuan memberi kesempatan belajar kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan latar belakang sosial atau ekonomi. Konsep pendidikan Taman Siswa menekankan pembentukan karakter, kebebasan berpikir, dan pengembangan potensi peserta didik.

Setelah Indonesia merdeka, Ki Hadjar Dewantara dipercaya menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama. Dalam peran tersebut, ia membangun sistem pendidikan nasional yang berlandaskan nilai-nilai kebudayaan Indonesia sambil mempersiapkan generasi penerus bangsa.

Warisan terbesar Ki Hadjar Dewantara adalah filosofi pendidikan yang masih digunakan hingga sekarang: Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun semangat), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan). Semboyan ini menjadi dasar pendekatan pendidikan Indonesia dan motto resmi Kementerian Pendidikan.

Lebih dari satu abad setelah gagasannya diperkenalkan, pemikiran Ki Hadjar Dewantara tetap relevan untuk tantangan pendidikan modern. Ia meyakini pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan sarana membentuk manusia yang merdeka, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Semangat ini terus menginspirasi para guru, siswa, dan seluruh insan pendidikan di Indonesia. Ki Hadjar Dewantara adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, dari perjuangan melawan kolonialisme, mendirikan Taman Siswa, hingga menjadi Menteri Pendidikan pertama, semuanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.