Ketua DPRK Abdya Minta Kompetisi Usia Dini di Aceh Digelar Berkelanjutan
Turnamen Hari Ulang Tahun Sekolah Sepak Bola (SSB) Driber resmi dibuka di Lapangan Gampong Drien Beurembang-Krueng Batee, Kecamatan Kuala Batee, Senin (11/5/2026).
|
|
Ketua DPRK Abdya, Roni Guswandi alias Abi Roni sedang melakukan tendangan perdana sebagai tanda dimulainya Turnamen Hari Ulang Tahun SSB Driber, Kuala Batee, Senin (11/5/2026) |
Kuala Batee - Turnamen tersebut diikuti sejumlah klub dari Aceh Besar, Banda Aceh, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya hingga Aceh Selatan. Kehadiran tim lintas daerah membuat kompetisi itu bukan sekadar agenda seremonial ulang tahun sekolah sepak bola, tetapi juga arena pemetaan kualitas pembinaan atlet muda.
Ketua DPRK Aceh Barat Daya (Abdya), Roni Guswandi atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abi Roni mengatakan kompetisi usia dini menjadi fondasi utama regenerasi pemain sepak bola daerah. Menurut dia, kualitas atlet tidak bisa dibentuk secara instan tanpa kompetisi yang rutin dan terukur.
“Kalau ingin punya pemain yang siap bersaing di PORA, Popda, atau Soeratin, pembinaan harus dimulai sejak sekarang. Anak-anak usia dini membutuhkan jam tanding dan kompetisi yang berkelanjutan,” kata Abi Roni saat membuka turnamen tersebut.
Ia menilai banyak talenta muda di Aceh yang gagal berkembang karena minimnya kompetisi kelompok umur. Karena itu, turnamen seperti yang digelar SSB Driber dianggap penting untuk menjaga kesinambungan pembinaan atlet.
Menurut Politisi dari Gerindra itu, atmosfer pertandingan antarklub dari berbagai kabupaten juga memberi pengalaman kompetitif bagi pemain muda untuk beradaptasi dengan tekanan pertandingan sejak dini.
“Anak-anak tidak cukup hanya latihan. Mereka harus dibiasakan menghadapi pertandingan kompetitif agar mental dan kualitas bermainnya terbentuk,” ujarnya.
Roni juga menekankan pentingnya sportivitas dalam sepak bola usia dini. Ia meminta pelatih dan orang tua tidak membebani pemain dengan ambisi berlebihan yang justru dapat mengganggu perkembangan anak.
“Usia mereka masih tahap belajar. Yang utama bukan hanya menang, tetapi bagaimana karakter, disiplin, dan mental bertanding dibangun sejak awal,” katanya.
Ketua panitia turnamen, Zakia, mengatakan pihaknya ingin menjadikan turnamen tersebut sebagai agenda tahunan untuk memperluas ruang kompetisi bagi pemain muda di Aceh.
“Turnamen ini kami arahkan sebagai wadah pembinaan. Anak-anak membutuhkan ruang untuk berkembang, membangun mental bertanding, sekaligus memperlihatkan kemampuan mereka,” ujar Zakia.
Ia mengatakan panitia akan berupaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan pada tahun mendatang, termasuk aspek teknis pertandingan dan fasilitas lapangan, agar kompetisi semakin kompetitif dan profesional.
“Harapannya, dari turnamen seperti ini lahir pemain-pemain muda yang nantinya bisa memperkuat klub maupun tim daerah Aceh,” katanya.
Posting Komentar