check_circle

Sukses!

Artikel berhasil diproses.

Apresiasi

Apresiasi Anda adalah napas bagi jurnalisme independen. Dukung kami untuk merawat kebenaran.

Transfer Virtual Account:

706085370103617

Pemberitahuan

Belum ada interaksi terbaru.

Dua Keuchik Abdya Masuk Kampus UI, Belajar Tata Kelola Desa

Di tengah upaya pemerintah memperkuat tata kelola pemerintahan desa, dua keuchik terbaik dari Abdya dipercaya menjadi wakil daerah dalam Program Kepala Desa Masuk Kampus.

Dua Keuchik Abdya Masuk Kampus UI, Belajar Tata Kelola Desa
Logo pemerintah kabupaten Aceh Barat Daya

BLANGPIDIE — Program yang digagas Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) itu akan diikuti ratusan kepala desa dari berbagai daerah.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pengendalian Penduduk dan Pemberdayaan Perempuan (DPMP4) Abdya, Jasmadi, membenarkan hal tersebut.

"Kabupaten Aceh Barat Daya mendapat kesempatan mengirimkan dua orang keuchik untuk mengikuti program Kepala Desa Masuk Kampus yang diselenggarakan Kemendagri bekerja sama dengan Universitas Indonesia," kata Jasmadi.

Dua kepala desa yang terpilih adalah Muammar Rafi, Keuchik Gampong Alue Padee, Kecamatan Kuala Batee, dan Juanda, Keuchik Gampong Tangan-Tangan Cut, Kecamatan Setia.

Keduanya akan mengikuti pembelajaran di Kampus Universitas Indonesia, Depok, bersama ratusan kepala desa dari berbagai daerah.

Program ini merupakan bagian dari Program Pemerintahan Desa Berdampak Tahun 2026 yang bertujuan meningkatkan kapasitas kepala desa.

Pembelajaran mencakup aspek akademik, pertukaran praktik terbaik, penguatan kepemimpinan, serta inovasi dalam tata kelola pemerintahan desa.

Kegiatan dijadwalkan berlangsung di Universitas Indonesia, Kampus Depok, dan diikuti sebanyak 868 kepala desa dari seluruh Indonesia yang dibagi dalam dua angkatan.

Menurut Jasmadi, keikutsertaan dua keuchik tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan daerah.

"Ilmu, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh selama mengikuti program diharapkan menjadi bekal untuk melahirkan inovasi pelayanan publik," ujar Jasmadi.

Hal itu juga untuk memperkuat transparansi pengelolaan dana desa, serta meningkatkan kualitas pembangunan gampong di Abdya.

Kepercayaan yang diberikan Kemendagri kepada dua keuchik Abdya menjadi sinyal bahwa desa-desa di daerah ini memiliki potensi untuk terus berkembang.

Dengan membawa nama Abdya ke lingkungan akademik Universitas Indonesia, keduanya diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang mendorong tata kelola desa yang lebih profesional dan adaptif.