Gempa Kembar Guncang Venezuela: Magnitudo 7,2 dan 7,5 Runtuhkan Gedung, Ratusan Tewas
Suasana hari libur nasional yang tenang di Venezuela seketika berubah menjadi tragedi mencekam. Dua gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang wilayah utara-tengah negara tersebut dalam selang waktu hanya 39 detik, meruntuhkan gedung-gedung tinggi, memicu kepanikan massal, serta merenggut ratusan korban jiwa.
| Ilustrasi gempa Venezuela/abdyatimes |
CARACAS — Bagi Maria Alejandra (38), seorang ibu dua anak yang tinggal di kawasan Altamira, Caracas, sore itu akan selalu membekas di ingatannya sebagai momen antara hidup dan mati. "Bumi seperti bergeser dari bawah kaki kami. Guncangan pertama membuat lampu gantung jatuh, dan belum sempat kami berdiri, guncangan kedua yang jauh lebih keras menghempaskan kami ke lantai," kenang Maria dengan suara bergetar saat ditemui di posko pengungsian darurat, Kamis (25/6/2026).
Ketika dinding apartemennya mulai retak dan debu beton memenuhi ruangan, Maria mengaku tidak memikirkan harta bendanya lagi. "Gedung 22 lantai di dekat tempat tinggal kami runtuh total menjadi puing-puing. Suaranya seperti bom. Saya tidak tahu bagaimana bisa selamat, saya hanya memeluk erat dan menarik kedua anak saya keluar lewat tangga darurat yang gelap," ujarnya.
Gempa kembar yang berpusat di dekat wilayah Yaracuy dan Moron ini terjadi pada Rabu sore (24/6) pukul 18.04 waktu setempat. Karena bertepatan dengan hari libur nasional, sebagian besar warga, termasuk Maria dan keluarganya, sedang berada di dalam rumah.
Hal ini membuat kepanikan menjadi berlipat ganda karena banyaknya warga yang terjebak di dalam bangunan yang retak atau runtuh. Hingga Kamis pagi, pemerintah sementara Venezuela telah menetapkan keadaan darurat nasional.
Data awal melaporkan sedikitnya 164 orang meninggal dunia dan lebih dari 1.000 lainnya luka-luka. Namun, angka tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah mengingat banyaknya korban yang diduga masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan, terutama di wilayah La Guaira dan Caracas yang mengalami kerusakan paling parah.
Saat ini, Maria bersama ratusan korban selamat lainnya terpaksa bermalam di tenda darurat dengan fasilitas seadanya karena jaringan listrik, air, dan telekomunikasi yang terputus total. Sambil menatap nanar ke arah kota yang kini dipenuhi sirene ambulans, Maria berharap bantuan medis dan logistik bisa segera merata.
"Kami kehilangan tempat tinggal, tapi saya bersyukur anak-anak saya masih bernapas. Sekarang kami hanya bisa saling menguatkan di sini," pungkasnya.
Posting Komentar