check_circle

Sukses!

Artikel berhasil diproses.

Apresiasi

Apresiasi Anda adalah napas bagi jurnalisme independen. Dukung kami untuk merawat kebenaran.

Transfer Virtual Account:

706085370103617

Pemberitahuan

Belum ada interaksi terbaru.

Kapten Iran Sesalkan Ketidakadilan FIFA di Piala Dunia 2026

Ketegangan geopolitik global kini benar-benar merambah ke dalam lapangan hijau. Konflik militer bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026 lalu berdampak langsung pada kacaunya pelaksanaan Piala Dunia 2026.

Kapten Iran Sesalkan Ketidakadilan FIFA di Piala Dunia 2026
Ilustrasi Mehdi Taremi/abdyatimes

SEATTLE — Di antara seluruh kontestan, Tim Nasional Iran harus menelan pil paling pahit karena menjadi tim yang paling dirugikan secara logistik dan akomodasi sepanjang turnamen bergengsi ini berlangsung. Sesaat setelah peluit panjang ditiupkan dalam laga sengit babak grup melawan Mesir di Seattle yang berakhir imbang, kapten sekaligus striker andalan Iran, Mehdi Taremi, akhirnya tidak mampu lagi membendung kekecewaannya.

Di hadapan para awak media, Taremi membuka suara dan melayangkan kritik tajam yang dialamatkan langsung kepada FIFA serta presidennya, Gianni Infantino. Kritik itu terkait ketidakadilan masif yang dialami oleh timnya.

"Ini adalah Piala Dunia bencana; benar-benar bencana," ujar Taremi dengan nada emosional di Konferensi Pers. "FIFA seharusnya menyelesaikan setiap masalah di sini, tetapi sayangnya mereka gagal sejak awal."

Akar dari penderitaan skuad berjuluk Team Melli ini bermula dari situasi perang di awal tahun. Perang dipicu oleh serangan militer AS dan Israel ke Iran yang menewaskan Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian dibalas dengan serangan balasan oleh pihak Iran.

Akibat situasi keamanan dan politik yang memanas, rencana awal Iran untuk menggunakan Tucson, Arizona sebagai base camp resmi mereka mendadak dibatalkan. Sejak akhir Mei, pemerintah AS melarang skuad Iran menetap di wilayah mereka, memaksa tim asuhan tersebut mengungsi dan mendirikan markas darurat di Tijuana, Meksiko.

"Mr. Infantino sempat datang ke ruang ganti kami setelah pertandingan pertama melawan Selandia Baru dan berkata, ini baru permulaan. Tapi lihat sekarang, fase grup akan selesai besok dan tidak ada yang berubah," tegas Taremi. Dampaknya sangat menyiksa fisik para pemain karena setiap kali jadwal pertandingan babak grup digelar di kota-kota AS, skuad Iran harus menempuh perjalanan udara internasional bolak-balik yang sangat menguras energi.

Masalah tidak berhenti pada jarak tempuh yang melelahkan. Taremi membeberkan fakta mengejutkan bahwa skuad Iran dipaksa bertanding tanpa didampingi oleh staf pendukung esensial mereka.

"Kami tidak punya orang-orang logistik kami di sini. Mereka terkendala visa. Bagaimana mungkin kami selalu harus melakukan perjalanan jauh dari Tijuana setiap kali ingin bertanding?" ujar Taremi. Akibat pengetatan kebijakan imigrasi oleh otoritas AS di tengah situasi perang, seluruh staf logistik, fisioterapis, dan tim pemulihan Iran ditolak untuk penyelesaian visa masuk ke Amerika Serikat.

Kondisi fisik yang kelelahan dan absennya penanganan medis yang mumpuni pasca-laga disinyalir menjadi penyebab utama performa Iran kurang maksimal di atas lapangan. Kelelahan mental dan fisik ini juga tampak jelas dalam pertandingan melawan Mesir, di mana Taremi sendiri sempat gagal mengeksekusi penalti di babak pertama yang seharusnya bisa membawa Iran mengunci kemenangan mutlak.

Curhatan emosional Taremi ini sekaligus menyoroti kontrasnya janji manis Gianni Infantino sebelum turnamen dimulai. Dalam pidato pembukaannya di Mexico City, Infantino sempat sesumbar dengan menyatakan bahwa dirinya "siap menyetir bus sendiri dari Teheran demi memastikan Iran bisa berpartisipasi".

Namun realitas di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya; Iran seolah dibiarkan berjuang sendirian di tengah kepungan sanksi dan birokrasi yang rumit. Akibat hasil imbang melawan Mesir, Iran kini mengakhiri fase grup dengan finis di peringkat ketiga Grup G.

Nasib mereka untuk melaju ke babak 32 besar kini berada di ujung tanduk dan sepenuhnya bergantung pada hasil pertandingan negara lain di grup berbeda yang baru akan dimainkan keesokan harinya. Secara matematis, peluang Iran sebenarnya masih cukup tinggi dengan prediksi 92 persen untuk lolos lewat jalur salah satu tim peringkat ketiga terbaik.

Namun, skenario buruk tetap mengintai jika Aljazair dan Austria bermain imbang, DR Kongo berhasil menumbangkan Uzbekistan, serta Kroasia minimal mencuri satu poin dari Ghana. Jika itu terjadi, posisi Iran akan terlempar dan mereka harus pulang lebih awal dari turnamen ini.