Niat Puasa Tasu'a dan Asyura 2025: Bacaan, Keutamaan, dan Tata Cara Lengkap
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah yang dimuliakan dalam Islam.
| Ilustrasi. Foto: Tim Kreatif Abdya Times |
Umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah pada bulan ini, termasuk puasa sunnah Tasu'a dan Asyura.
Puasa Tasu'a dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, sedangkan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.
Kedua puasa ini memiliki pahala besar dan termasuk amalan sunnah yang paling utama setelah puasa Ramadan.
Puasa Asyura bahkan disebut sebagai puasa sunnah yang paling utama setelah puasa Ramadan.
Sejarah puasa ini berkaitan dengan Nabi Musa AS yang berpuasa sebagai rasa syukur karena diselamatkan dari kejaran Fir'aun.
Rasulullah SAW kemudian menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada hari Asyura.
Beliau juga berkeinginan menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram agar berbeda dengan tradisi kaum Yahudi.
Dari sinilah lahir anjuran melaksanakan puasa Tasu'a dan Asyura secara berurutan.
Niat merupakan syarat penting dalam setiap ibadah, termasuk puasa sunnah.
Niat puasa Tasu'a dalam bahasa Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى.
Latinnya: Nawaitu shauma Tasu'a sunnatan lillahi ta'ala.
Artinya: "Saya berniat puasa sunnah Tasu'a karena Allah Ta'ala."
Niat ini sebaiknya dibaca pada malam hari sebelum fajar.
Sebagian ulama membolehkan niat puasa sunnah dilakukan pada pagi hari selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
Niat puasa Asyura dalam bahasa Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى.
Latinnya: Nawaitu shauma 'Asyura sunnatan lillahi ta'ala.
Artinya: "Saya berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta'ala."
Niat ini dapat dibaca sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar.
Keutamaan terbesar puasa Asyura adalah menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun sebelumnya.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW.
Puasa Tasu'a dan Asyura merupakan amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Melaksanakannya berarti mengikuti sunnah Nabi dan mendapatkan pahala tambahan.
Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam.
Melaksanakan puasa pada bulan ini menjadi salah satu cara menghidupkan syiar Islam.
Puasa Asyura juga mengingatkan umat Islam untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Allah.
Tata cara puasa Tasu'a dan Asyura sama dengan puasa sunnah lainnya.
Langkah pertama adalah membaca niat sesuai dengan hari pelaksanaannya.
Makan sahur sangat dianjurkan meskipun hukumnya sunnah.
Selama berpuasa, umat Islam wajib menahan diri dari makan, minum, dan hal yang membatalkan puasa lainnya.
Dianjurkan pula memperbanyak membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah, dan berdoa.
Berbuka puasa dilakukan saat waktu Magrib tiba.
Puasa Asyura tetap sah jika dilakukan hanya pada tanggal 10 Muharram.
Namun, yang lebih utama adalah melaksanakan puasa Tasu'a dan Asyura secara berurutan.
Tujuannya mengikuti anjuran Rasulullah SAW sekaligus membedakan dengan tradisi kaum Yahudi.
Jika tidak sempat puasa Tasu'a, seseorang tetap dianjurkan berpuasa pada hari Asyura.
Keutamaan puasa Asyura tetap dapat diperoleh selama puasa dilakukan dengan niat yang benar.
Selain puasa, amalan sunnah lain di bulan Muharram termasuk memperbanyak sedekah dan membaca Al-Qur'an.
Berdzikir, beristighfar, dan menjalin silaturahmi juga merupakan amalan yang bernilai ibadah.
Dengan memahami niat, tata cara, dan keutamaan puasa Tasu'a dan Asyura, umat Islam dapat memanfaatkan bulan Muharram sebagai momentum meningkatkan ketakwaan.
Posting Komentar