check_circle

Sukses!

Artikel berhasil diproses.

Apresiasi

Apresiasi Anda adalah napas bagi jurnalisme independen. Dukung kami untuk merawat kebenaran.

Transfer Virtual Account:

706085370103617

Pemberitahuan

Belum ada interaksi terbaru.

Prof. Dr. Nyak Amir Resmi Dilantik Sebagai Rektor UTU, Harapan Baru Kemajuan Pendidikan Barsela

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Brian Yuliarto, melantik Prof. Dr. Nyak Amir, S.Pd., M.Pd. sebagai Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) masa jabatan 2026–2030. Pelantikan berlangsung di Graha Diktisaintek, Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026.

Prof. Dr. Nyak Amir Resmi Dilantik Sebagai Rektor UTU, Harapan Baru Kemajuan Pendidikan Barsela
Menteri Pendidikan Tinggi, sains dan Teknologi Ri Prof.Brian Yuliarto (kiri) saat berjabat Tangan dengan Rektor UTU Prof. Dr. Nyak Amir (kanan) sesaat setelah pelantikan. Foto: ist

Jakarta — Prosesi ini menandai babak baru bagi UTU yang menjadi pusat pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat di kawasan Barat Selatan Aceh (Barsela). Pelantikan dihadiri oleh sejumlah pejabat dan sivitas akademika.

"Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak SDM unggul dan menghasilkan riset berdampak," ujar Menteri Brian Yuliarto dalam sambutannya. Ia menekankan pentingnya tata kelola kampus dan kolaborasi untuk meningkatkan daya saing di tingkat nasional dan internasional.

Prof. Nyak Amir menyatakan komitmennya membawa UTU menjadi kampus unggul dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. "Kampus harus menjadi pusat inovasi dan solusi bagi persoalan masyarakat," kata Prof. Nyak Amir. Ia menargetkan penguatan kualitas akademik dan riset untuk mencetak lulusan kompetitif.

Masyarakat di kawasan Barsela Aceh menaruh harapan besar pada kepemimpinan baru ini, terutama dalam pengembangan riset berbasis potensi lokal. Sektor pertanian, kelautan, dan ekonomi diharapkan mendapatkan dampak positif dari hasil riset kampus.

Kerja sama dengan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dinilai penting untuk memastikan inovasi tidak berhenti di ruang akademik. Hal ini diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan di wilayah Barat Selatan Aceh.