check_circle

Sukses!

Artikel berhasil diproses.

Apresiasi

Apresiasi Anda adalah napas bagi jurnalisme independen. Dukung kami untuk merawat kebenaran.

Transfer Virtual Account:

706085370103617

Pemberitahuan

Belum ada interaksi terbaru.

Akses Memprihatinkan, Warga Lhok Batee Intan Abdya Terancam Terisolasi Saat Musim Hujan

Warga Dusun Lhok Batee Intan, Desa Padang, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), hingga kini masih menghadapi persoalan akses yang memprihatinkan. Mereka terpaksa memilih antara melintasi jembatan gantung yang kian rapuh atau menyeberangi arus Krueng Manggeng demi menjalankan aktivitas sehari-hari.

Ambulance Puskesmas sedang menyeberangi arus Krueng Manggeng untuk menjeput pasien ke Dusun Lhok Batee Intan, Gampong Padang, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Abdya, Kamis (25/6/2026). Foto: Abdya Times/HO

MANGGENG - Kondisi tersebut menjadi ancaman serius, terutama saat musim hujan. Jembatan gantung yang digunakan pejalan kaki dan kendaraan roda dua disebut sudah tua dan rawan membahayakan keselamatan warga.

Setiap kali dilintasi, jembatan itu bergoyang cukup keras dan mengeluarkan bunyi derit. Situasi ini membuat warga selalu dihantui rasa khawatir.

Sementara itu, kendaraan roda empat tidak dapat melintasi jembatan tersebut. Mobil pengangkut hasil perkebunan dan pertanian terpaksa menyeberangi sungai secara langsung dengan risiko tinggi.

“Setiap kali mobil masuk ke sungai, risikonya besar. Kalau air tiba-tiba naik, nyawa dan kendaraan bisa jadi taruhannya,” ujar seorang warga.

Kepala Desa Padang, Muttalimin, mengatakan kondisi paling kritis terjadi saat hujan deras mengguyur wilayah hulu sungai. Debit air dapat naik mendadak dan memutus akses transportasi warga.

“Kalau hujan deras di hulu, air sungai bisa cepat meluap. Dalam kondisi seperti itu, mobil tidak bisa melintas sama sekali,” kata Muttalimin, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, persoalan akses ini tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berdampak langsung terhadap roda perekonomian masyarakat.

Jalur tersebut menjadi akses utama distribusi berbagai komoditas unggulan dari kawasan pedalaman, seperti kopi, jengkol, durian, rambutan, serta hasil pertanian lainnya.

Di tengah kondisi itu, harapan mulai muncul setelah Pemerintah Kabupaten Abdya memasukkan pembangunan jembatan permanen sebagai salah satu prioritas infrastruktur strategis dan telah mengusulkannya ke pemerintah pusat.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas PUPR Abdya, Rahwadi, mengatakan jembatan yang direncanakan memiliki panjang 60 meter dengan estimasi anggaran sekitar Rp15 miliar untuk menghubungkan Desa Suka Damai, Kecamatan Lembah Sabil, dengan Dusun Lhok Batee Intan.

Ia menambahkan, usulan tersebut mendapat dukungan dari H. Danang WS dan H. Ghufran MA. Bagi warga Lhok Batee Intan, jembatan permanen bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjamin keselamatan, mencegah keterisolasian, dan memperkuat ekonomi masyarakat.