Baru 4 Tahun Diresmikan, Jembatan Rp 38 M di Babahrot Terancam Ambruk
Jembatan Pantee Cermin–Cot Seumantok di Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya, yang dibangun menggunakan Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) dengan nilai sekitar Rp38 miliar, kini menjadi sorotan publik.
![]() |
| Abutment Jembatan Penghubung Gampong Pantee Cermin - Cit Seumantok Kecamatan Babahrot Aceh Barat Daya. |
BLANGPIDIE — Hanya sekitar empat tahun sejak peresmian pada 2022, bagian abutment jembatan dilaporkan mengalami gerusan akibat arus Krueng Babahrot, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan struktur.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar dari masyarakat. Bagaimana mungkin proyek infrastruktur bernilai puluhan miliar rupiah sudah memerlukan penanganan darurat dalam waktu yang relatif singkat. Apakah kerusakan tersebut semata-mata disebabkan faktor alam, atau terdapat aspek perencanaan, perlindungan tebing, desain, pelaksanaan, maupun pengawasan yang perlu dievaluasi secara menyeluruh.
Kepala Desa Cot Seumantok, Zaidami, membenarkan bahwa kerusakan telah terjadi pada bagian bawah jembatan. "Iya benar sudah tergerus air. Bagian bawah tiang jembatan sudah kelihatan tiang pancang. Mudah-mudahan segera dilakukan perbaikan secara permanen," ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini tidak lagi sebatas retakan atau kerusakan ringan. Munculnya tiang pancang akibat material di sekitar fondasi yang tergerus menjadi indikasi bahwa kondisi struktur bawah jembatan perlu segera ditangani berdasarkan kajian teknis yang komprehensif.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Anggota DPRK Abdya dari PKB, Zulkarnaini atau Om Zul. "Kita khawatir sewaktu-waktu jembatan itu bisa ambruk akibat material di abutment tergerus air Sungai Krueng Babahrot," katanya.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya telah menyiapkan sekitar Rp1,5 miliar melalui skema pergeseran anggaran sebagai langkah awal penanganan darurat. Namun, besarnya biaya perbaikan yang mulai disiapkan justru memunculkan pertanyaan baru mengenai efektivitas pembangunan proyek yang telah menghabiskan dana sekitar Rp38 miliar tersebut.
Sorotan terhadap kawasan ini sebenarnya bukan hal baru. Pada 2025, anggota DPRK Abdya Zulklifi Ali telah mengingatkan pentingnya pembenahan infrastruktur di kawasan Pantee Cermin–Cot Seumantok agar investasi pemerintah benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Ini menunjukkan bahwa kondisi kerusakan jembatan telah terdeteksi sejak tahun 2025, sehingga peringatan tersebut menjadi semakin relevan.
Jembatan ini dibangun melalui dua tahap menggunakan DOKA. Tahap pertama pada 2020 meliputi pembangunan pondasi, pilar, dan abutment dengan anggaran sekitar Rp13–14 miliar. Tahap kedua pada 2021 meliputi pembangunan bangunan atas jembatan dengan anggaran sekitar Rp24 miliar, sehingga total investasi mencapai sekitar Rp38 miliar sebelum diresmikan pada 2022.
Sebagai proyek yang dibiayai uang negara dalam jumlah besar, pembangunan jembatan semestinya melalui tahapan perencanaan, pengadaan melalui tender, pelaksanaan konstruksi, pengawasan teknis, hingga serah terima pekerjaan sesuai ketentuan pengadaan barang dan jasa pemerintah. Karena itu, munculnya kerusakan serius dalam waktu yang relatif singkat layak menjadi bahan evaluasi menyeluruh.
Publik kini menunggu lebih dari sekadar perbaikan darurat. Pemerintah perlu membuka secara transparan hasil kajian teknis mengenai penyebab gerusan, menjelaskan apakah sistem perlindungan sungai telah dirancang sesuai kondisi lapangan, serta memastikan apakah kualitas pelaksanaan konstruksi telah memenuhi spesifikasi kontrak.
Nilai proyek yang mencapai sekitar Rp38 miliar membuat masyarakat berhak mengetahui penyebab pasti kerusakan tersebut. Audit teknis independen menjadi penting agar publik memperoleh kepastian apakah kerusakan disebabkan semata-mata oleh faktor alam atau terdapat unsur lain yang perlu dipertanggungjawabkan. Transparansi menjadi kunci agar proyek-proyek infrastruktur bernilai besar benar-benar memberikan manfaat jangka panjang, bukan justru menjadi beban anggaran baru hanya beberapa tahun setelah selesai dibangun.(HK)
Editor: Muhammad

Posting Komentar