check_circle

Sukses!

Artikel berhasil diproses.

Apresiasi

Apresiasi Anda adalah napas bagi jurnalisme independen. Dukung kami untuk merawat kebenaran.

Transfer Virtual Account:

706085370103617

Pemberitahuan

Belum ada interaksi terbaru.

Harga Telur Ayam Ras di Abdya Bertahan di Level Stabil, Pasokan Terjaga

Harga telur ayam ras di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) tercatat stagnan pada level Rp26.667 per kilogram berdasarkan data pantauan GPR Aceh periode 11-12 Juli 2026. Angka ini tidak menunjukkan perubahan signifikan jika dibandingkan dengan hari sebelumnya, mengindikasikan bahwa keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar regional masih terjaga. Kondisi ini menjadi angin segar bagi ibu rumah tangga yang mengandalkan telur sebagai sumber protein utama, mengingat komoditas lain seperti daging ayam ras justru dibanderol lebih tinggi di angka Rp37.500 per kilogram.

Dinamika Harga Telur di Abdya
Ilustrasi harga telur di pasar Kabupaten Aceh Barat Daya.

BLANGPIDIE - Pantauan harga telur hari ini di Abdya memperlihatkan bahwa harga telur 1 kg hari ini masih berada di bawah tekanan inflasi komoditas pangan lainnya. Sebagai perbandingan, cabai rawit merah yang menjadi bumbu dapur pokok masih bertengger di harga Rp60.000 per kilogram, sementara cabai merah keriting mencapai Rp50.000 per kilogram. Stabilitas harga telur ini patut diapresiasi di tengah gejolak harga bumbu dapur yang kerap membuat anggaran belanja rumah tangga membengkak.

Dari sisi komoditas protein hewani lainnya, daging sapi murni tercatat paling mahal dengan harga Rp170.000 per kilogram, diikuti daging ayam ras yang menyentuh Rp37.500 per kilogram. Ikan kembung dan ikan tongkol sama-sama dibanderol Rp40.000 per kilogram, menjadikan telur ayam ras sebagai alternatif protein yang paling ekonomis bagi warga Abdya. Data ini mengonfirmasi bahwa telur tetap menjadi primadona di tengah daya beli masyarakat yang perlu dicermati.

Sementara itu, harga beras premium di Abdya tercatat Rp16.500 per kilogram, sedangkan beras medium non-SPHP berada di angka Rp15.200 per kilogram. Beras SPHP yang merupakan program stabilisasi harga pemerintah justru lebih murah, yakni Rp12.800 per kilogram. Perbedaan harga ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki opsi untuk memilih beras sesuai dengan kantong, meskipun disparitas harga antara premium dan medium cukup terasa.

Komoditas minyak goreng juga menunjukkan variasi harga yang menarik. Minyak goreng kemasan dijual Rp25.000 per liter, sementara minyak goreng curah lebih murah di angka Rp18.000 per liter. Minyakita yang menjadi andalan program subsidi pemerintah dibanderol Rp20.000 per liter, selisih tipis dengan minyak curah. Kondisi ini menandakan bahwa persaingan harga di sektor minyak goreng masih cukup ketat, menguntungkan konsumen yang jeli membandingkan harga.

Bawang merah dan bawang putih bonggol, dua bumbu dapur esensial lainnya, masing-masing tercatat Rp28.000 per kilogram dan Rp45.000 per kilogram. Lonjakan harga bawang putih yang cukup tinggi dibandingkan bawang merah patut diwaspadai karena bisa mendorong kenaikan biaya produksi rumah tangga. Gula konsumsi yang stabil di Rp20.000 per kilogram dan tepung terigu curah yang murah di Rp10.000 per kilogram setidaknya sedikit meringankan beban belanja warga.

Secara keseluruhan, data GPR Aceh pada periode ini menegaskan bahwa harga telur ayam ras di Abdya menjadi salah satu titik terang di tengah tekanan harga komoditas pangan lainnya. Stabilitas ini diharapkan dapat bertahan setidaknya hingga akhir pekan, mengingat pasokan dari peternak lokal dinilai masih lancar. Pemerintah daerah diharapkan terus memantau rantai distribusi agar harga telur tidak tiba-tiba meroket akibat gangguan logistik atau kenaikan biaya pakan ternak.