Tokoh Manggeng Dukung Pemkab Abdya Rehab Gedung Kesenian
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Pemkab Abdya) resmi mengalokasikan anggaran sekitar Rp1 miliar untuk merehabilitasi Gedung Kesenian Manggeng yang berlokasi di Desa Seunelop, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Abdya.
![]() |
| Edi Syahputra. Foto: Ist |
BLANGPIDIE — Langkah cepat Bupati Abdya Safaruddin dalam merespons aspirasi warga ini langsung mendapat apresiasi tinggi dari tokoh masyarakat setempat.
Selaku putra asli Manggeng Raya, Edi Syahputra H, S.Pd, Jumat (3/7/2026) menilai kebijakan tersebut sebagai aksi nyata pemerintah kabupaten dalam merawat identitas budaya sekaligus menghidupkan kembali ruang kreativitas generasi muda.
"Kebudayaan adalah fondasi penting dalam membangun karakter masyarakat dan memperkuat identitas daerah. Langkah Bupati Abdya ini patut diacungi jempol karena membuktikan pemerintah benar-benar mendengar dan mengeksekusi suara rakyat," ujar pria yang akrab disapa Putra ini, yang berprofesi sebagai guru SMA di Banda Aceh.
Keseriusan Pemkab Abdya dibuktikan dengan langsung diterjunkannya tim survei bersama Camat Manggeng Ridhawiyardi untuk meninjau kondisi fisik bangunan sebelum proyek dimulai.
Menurut Putra, gedung ini bukan sekadar struktur beton biasa bagi masyarakat Manggeng. Gedung Kesenian Manggeng adalah saksi bisu sejarah tempat lahirnya talenta-talenta seni lokal, wadah perlombaan, hingga ruang pertemuan lintas generasi. Sayangnya, akibat usia dan minimnya perawatan, fasilitas ini sempat mati suri dan membatasi ruang berekspresi pemuda setempat.
Edi menegaskan bahwa rehabilitasi ini membawa misi besar yang melampaui perbaikan fisik gedung. Ada dampak sosial dan ekonomi masif yang akan ikut bergerak, di antaranya menjadi pusat kohesi sosial, yaitu ruang inklusif tempat anak-anak belajar seni, remaja mengasah bakat, dan komunitas budaya berkumpul tanpa sekat. Selain itu, akan ada multiplier effect bagi ekonomi melalui event, festival, dan pameran yang menghidupkan sektor UMKM, pedagang kuliner, jasa dekorasi, hingga transportasi lokal.
Meski menyambut baik, Putra mengingatkan bahwa pembangunan fisik hanyalah langkah awal. Tantangan terbesar justru ada pada pengelolaan jangka panjang pasca-rehabilitasi agar aset daerah ini tidak menjadi proyek mangkrak yang sepi aktivitas.
Ia mendorong perlunya kolaborasi lintas sektor yang dinamis, di mana pihak sekolah dan kampus dapat memanfaatkan gedung untuk pentas seni, literasi, dan lomba kreativitas siswa, sementara sanggar seni dan komunitas bisa menjadikannya sebagai markas latihan dan pertunjukan berkala. Pemerintah daerah juga harus mengintegrasikan gedung ini sebagai pusat agenda festival budaya tahunan tingkat kabupaten, bahkan provinsi.
"Daerah yang maju bukan hanya diukur dari megahnya infrastruktur fisik, tetapi dari kemampuannya merawat sejarah, menghargai budaya, dan menyediakan ruang bagi warganya untuk terus berkarya. Semoga Gedung Kesenian Manggeng menjadi rumah bersama dan simbol kebangkitan budaya di Aceh Barat Daya," pungkasnya.
Putra berharap proses rehabilitasi berjalan transparan, akuntabel, dan mengutamakan kualitas. Dengan langkah ini, Pemkab Abdya menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak lagi melulu soal jalan, jembatan, atau fasilitas ekonomi, melainkan juga menyentuh aspek kebudayaan yang esensial.
Editor: Muhammad

Posting Komentar