check_circle

Sukses!

Artikel berhasil diproses.

Apresiasi

Apresiasi Anda adalah napas bagi jurnalisme independen. Dukung kami untuk merawat kebenaran.

Transfer Virtual Account:

706085370103617

Pemberitahuan

Belum ada interaksi terbaru.

Puskesmas Tangan-Tangan dan Mahasiswa UTU Gencarkan Edukasi Cegah Stunting di Adan dan Pante Geulumpang ABDYA

Komitmen menekan angka stunting sekaligus mewujudkan generasi sehat dan berkualitas terus diperkuat di Kabupaten Aceh Barat Daya. Salah satunya melalui kolaborasi antara Puskesmas Tangan-Tangan dan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Teuku Umar (UTU) yang menggelar edukasi pencegahan stunting di Desa Adan dan Desa Pante Geulumpang, Kecamatan Tangan-Tangan, Kamis (9/7/2026).

Puskesmas Tangan-Tangan dan Mahasiswa UTU Gencarkan Edukasi Cegah Stunting di Adan dan Pante Geulumpang ABDYA
Kegiatan Edukasi Stunting yang di Selenggarakan Oleh Pukesmas Tangan - Tangan Dan FIK UTU. Foto. Arsip Pukesmas Tangan - Tangan

TANGAN - TANGAN — Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian masyarakat mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan UTU yang dibagi ke dalam dua kelompok agar edukasi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tangan-Tangan.

Program ini mengusung tema "Cegah Stunting" dengan sasaran utama para orang tua balita, ibu hamil, dan masyarakat. Edukasi diberikan untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya pemenuhan gizi, pola asuh yang baik, serta pemantauan tumbuh kembang anak sejak dini sebagai langkah mencegah stunting.

Di Desa Adan, kegiatan diikuti para orang tua balita dengan menghadirkan narasumber utama M. Sufriadi, S.K.M., Petugas Puskesmas Tangan-Tangan. Ia didampingi mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan UTU yang terdiri dari Aiwa Permata, Azzahara Z., Marlita, Fajar Rani, dan Aiman Uliana.

Sementara itu, di Desa Pante Geulumpang, kegiatan diintegrasikan dengan pelaksanaan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) sehingga penyuluhan dapat menjangkau langsung ibu hamil, orang tua balita, dan masyarakat yang hadir di Posyandu. Pada kegiatan ini, M. Sufriadi didampingi kelompok mahasiswa yang berbeda, yakni Rina, Syifa Ajjahro Parinduri, Nofa Zahra, dan Wahyuni.

Materi di kedua desa disampaikan secara kolaboratif. Di Desa Adan, sesi pembuka disampaikan oleh Aiman Uliana, sedangkan di Desa Pante Geulumpang diawali oleh Syifa Ajjahro Parinduri. Keduanya memberikan pemahaman dasar mengenai stunting, pentingnya menjaga tumbuh kembang anak, serta masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode tersebut merupakan fase emas yang sangat menentukan perkembangan fisik, kecerdasan, dan kesehatan anak di masa depan.

Sebagai pemateri utama, M. Sufriadi, S.K.M. menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar kondisi tubuh anak yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya, tetapi merupakan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, serta kurangnya stimulasi dalam jangka waktu yang lama. Kondisi ini menyebabkan tinggi badan anak berada di bawah standar usianya dan dapat memengaruhi perkembangan otak serta kemampuan belajar.

"Stunting merupakan ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia. Dampaknya tidak hanya terlihat dari postur tubuh anak yang pendek, tetapi juga dapat menurunkan kemampuan kognitif, meningkatkan risiko penyakit saat dewasa, hingga memengaruhi produktivitas di masa depan," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak sebelum anak dilahirkan. Orang tua diharapkan memastikan ibu hamil memperoleh asupan gizi yang cukup, memberikan ASI eksklusif selama enam bulan, dilanjutkan dengan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang bergizi dan kaya protein hewani, menjaga sanitasi lingkungan serta akses air bersih, dan rutin memantau pertumbuhan anak melalui Posyandu maupun Puskesmas.

Menurutnya, upaya penurunan stunting juga menjadi salah satu prioritas pemerintah melalui Kementerian Kesehatan bersama berbagai kementerian dan lembaga. Berbagai program terus diperkuat, mulai dari pendampingan ibu hamil, pemberian tablet tambah darah, imunisasi, pemantauan pertumbuhan balita, edukasi gizi keluarga, hingga penguatan layanan kesehatan dasar sebagai bagian dari strategi membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.

M. Sufriadi menekankan bahwa keberhasilan menekan angka stunting tidak dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan semata.

«"Pencegahan stunting membutuhkan kerja sama semua pihak. Tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader Posyandu, perguruan tinggi, hingga keluarga memiliki peran penting. Yang paling utama adalah kesadaran orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi dan menjaga tumbuh kembang anak sejak dini," ujarnya.»

Kegiatan edukasi di kedua desa berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias berdiskusi dan berkonsultasi mengenai pemberian ASI, penyusunan menu bergizi, pola pengasuhan, hingga cara memantau pertumbuhan anak.

Melalui kegiatan yang dilaksanakan secara serentak di dua desa dengan kelompok mahasiswa yang berbeda ini, diharapkan semakin banyak keluarga yang memahami pentingnya pencegahan stunting sehingga mampu melahirkan generasi Aceh Barat Daya yang sehat, cerdas, produktif, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045. (HK)