Satu Tahun PEMA Membangun Fondasi Kemandirian Aceh
Di tengah dinamika ekonomi Aceh yang masih bertumpu pada dana transfer pusat dan terus menghadapi tantangan fiskal daerah, keberadaan PT Pembangunan Aceh (PEMA) menjadi sangat penting sebagai salah satu instrumen strategis untuk mendorong kemandirian ekonomi.
![]() |
| Dr Usman Lamreung |
BLANGPIDIE — Sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), PEMA bukan perusahaan biasa, tetapi simbol harapan bahwa Aceh mampu membangun kekuatan ekonominya sendiri melalui pengelolaan sumber daya dan investasi yang profesional.
Dalam satu tahun terakhir, PT PEMA mulai menunjukkan arah baru. Selama ini PEMA sering dipandang berjalan lambat, minim gebrakan, dan belum sepenuhnya memperlihatkan kapasitasnya sebagai lokomotif ekonomi daerah. Kini ada tanda-tanda perubahan.
Bukan perubahan yang bersifat kosmetik, tetapi perubahan mendasar: transformasi dari dalam. Dan itulah yang paling penting. Sebuah perusahaan besar tidak dibangun dari proyek besar saja, tetapi dari fondasi yang kuat, tata kelola yang sehat, dan visi jangka panjang yang jelas.
Langkah awal yang dilakukan Mawardi dalam satu tahun ini memperlihatkan pendekatan yang lebih realistis. Ia tidak terburu-buru mengejar ekspansi yang bombastis, tetapi memilih jalur yang lebih mendasar: penataan internal, pembenahan sistem kerja, dan penguatan tata kelola perusahaan.
Ini langkah yang tepat. Karena selama ini persoalan utama banyak BUMD bukan kurangnya peluang bisnis, melainkan lemahnya tata kelola, tidak disiplin dalam manajemen, dan sering terseret dalam kepentingan politik. Banyak perusahaan daerah gagal tumbuh bukan karena miskin potensi, tetapi karena miskin sistem. PEMA tampaknya sedang berusaha keluar dari jebakan itu.
Penataan organisasi, evaluasi lini bisnis, penguatan standar operasional (SOP), serta upaya membangun kultur kerja yang lebih profesional menunjukkan bahwa PEMA sedang menata ulang rumah besarnya. Ini penting, sebab tanpa tata kelola yang kuat, ekspansi usaha justru bisa menjadi beban.
Transformasi ini harus dipahami sebagai investasi jangka panjang. Masyarakat sering kali melihat keberhasilan BUMD hanya dari laba tahunan. Padahal dalam fase awal transformasi, yang lebih penting adalah membangun sistem yang sehat agar perusahaan bisa tumbuh berkelanjutan. Dalam konteks ini, satu tahun pertama PEMA di bawah Mawardi lebih layak dinilai sebagai fase konsolidasi dan penataan fondasi.
Di sisi bisnis, PEMA juga mulai menunjukkan langkah progresif. Sektor energi masih menjadi poros utama, dan ini sangat logis. Aceh memiliki sejarah panjang dalam industri energi, dari Arun hingga kini muncul potensi baru di kawasan Andaman. Blok Andaman hari ini menjadi salah satu isu strategis terbesar bagi masa depan ekonomi Aceh.
Cadangan gas besar yang ditemukan di wilayah itu dapat menjadi titik balik kebangkitan ekonomi daerah. Tetapi pertanyaannya: apakah Aceh siap mengambil manfaat maksimal? Di sinilah peran PEMA menjadi krusial.
PEMA harus diposisikan sebagai kendaraan utama daerah untuk masuk dalam rantai ekonomi energi tersebut. Jika tidak disiapkan sejak sekarang, Aceh berpotensi kembali menjadi penonton di rumah sendiri, seperti yang sering terjadi dalam pengelolaan sumber daya masa lalu. Maka penguatan kapasitas PEMA hari ini bukan saja urusan internal perusahaan, tetapi bagian dari strategi besar Aceh menyongsong era energi baru.
Selain energi, langkah diversifikasi usaha ke sektor kopi, sulfur, dan telekomunikasi juga patut dicatat. Ini menunjukkan bahwa PEMA tidak ingin bergantung pada satu sektor.
Diversifikasi adalah langkah penting untuk menjaga stabilitas bisnis dan membuka peluang baru. Namun diversifikasi harus dilakukan dengan cermat. Masuk ke banyak sektor tanpa kesiapan hanya akan memperbesar risiko. PEMA harus memastikan bahwa setiap langkah bisnis memiliki dasar yang kuat seperti studi kelayakan, analisis pasar, model bisnis yang jelas, dan SDM yang kompeten.
Kegagalan banyak BUMD di Indonesia sering bermula dari ekspansi yang terlalu cepat tetapi tanpa perencanaan matang. Karena itu, keberanian harus selalu diimbangi dengan kalkulasi.
Hal lain yang juga penting adalah perubahan cara pandang terhadap aset daerah. Selama ini banyak aset strategis Aceh yang belum dimaksimalkan atau bahkan kehilangan nilai ekonomi karena lemahnya pengelolaan.
PEMA mulai menunjukkan upaya lebih serius dalam menjaga dan mengoptimalkan aset-aset itu. Ini langkah strategis. Karena menjaga aset daerah bukan hanya mempertahankan kepemilikan, tetapi memastikan bahwa aset itu memberi manfaat ekonomi nyata bagi rakyat.
Namun di balik optimisme ini, tantangan PEMA ke depan tidak ringan. Pertama adalah konsistensi transformasi. Banyak reformasi perusahaan berhenti di tengah jalan karena perubahan kepemimpinan atau lemahnya dukungan politik.
PEMA harus memastikan bahwa transformasi ini tidak bergantung pada satu figur. Kedua adalah independensi dari intervensi politik. Ini ujian paling berat bagi BUMD mana pun. Selama keputusan bisnis masih dipengaruhi kepentingan di luar korporasi, maka profesionalisme akan sulit tumbuh. Ketiga adalah penguatan SDM. Untuk bersaing di sektor strategis seperti energi, investasi, dan perdagangan global, PEMA membutuhkan tenaga profesional dengan kualitas tinggi.
Aceh harus mulai serius menyiapkan SDM yang mampu mengelola bisnis kelas besar. Keempat adalah orientasi pada dampak ekonomi daerah. Pada akhirnya keberhasilan PEMA tidak diukur dari seberapa banyak unit usaha yang dibuka, tetapi seberapa besar kontribusinya terhadap PAD, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan ekonomi masyarakat. Itulah indikator yang sesungguhnya.
Hari ini PEMA sedang berada di persimpangan penting: antara menjadi BUMD biasa yang hidup dalam rutinitas birokrasi, atau menjadi korporasi strategis yang mampu menjadi pilar ekonomi Aceh. Satu tahun di bawah Mawardi menunjukkan bahwa arah perubahan itu mulai terbentuk. Fondasi sedang dibangun, sistem sedang dirapikan, dan orientasi bisnis mulai diperjelas.
Tugas berikutnya adalah menjaga momentum itu. Bila PEMA berhasil bertransformasi, maka yang dibangun bukan hanya perusahaan, tetapi masa depan ekonomi Aceh yang lebih mandiri, kuat, dan berdaulat. Dan di tengah peluang besar seperti Andaman, kegagalan bukan lagi pilihan. Ini momentum sejarah yang harus dijawab dengan kesiapan, keberanian, dan tata kelola yang benar.
Penulis adalah Pengamat Kebijakan Publik
Editor: Muhammad

Posting Komentar