Puisi Mumu: Renungan Cinta, Keadilan, dan Keteladanan Nabi Muhammad
Jantung berdebar kencang, bagaikan usai berlari panjang. Ada rasa yang sulit diungkapkan, hadir di balik sunyi malam, selalu menghampiri setiap malam yang datang.
![]() |
| Mumu Sedang memimpin pasukan latihan upacara. Abdya Times |
PURWAKARTA — Aku tak tahu harus berbuat apa pada sebuah perasaan yang hadir di balik senyuman. Menoleh ke sana kemari, mencari sumber yang tak pasti. Namun, jawabannya ternyata ada di dalam hati.
O, ternyata ini sebuah perasaan bernama cinta. Sulit diungkapkan, namun selalu terasa di dalam hati. Sebuah pengakuan jujur yang membuncah, seperti puisi ini, karya Mumu, yang lahir di Purwakarta, 28 Februari 2004.
Di balik gedung-gedung tinggi, suara rakyat menggema. Kesejahteraan yang seharusnya untuk mereka yang membutuhkan, malah dimainkan oleh tangan-tangan yang punya kekuasaan. Di mana keadilan untuk negeri ini? Jika penguasanya saja sudah tak peduli.
Apa mereka lupa akan janji? Negeri ini milik bersama, bukan milik orang yang punya kuasa. Bukan untuk memperkaya diri, sementara rakyat jelata masih menunggu keadilan negeri ini.
Keadilan harus dirasakan bersama, bukan dinikmati untuk mereka yang punya kuasa. Wahai para pemegang amanah bangsa, sadarlah. Kekuasaan hanya sementara, bukan untuk dinikmati sepanjang masa. Inilah kegelisahan yang diungkapkan Mumu dalam puisinya.
Telah lahir orang mulia, Baginda Nabi Muhammad namanya. Membawa cahaya bagi dunia, menuntun umat kepada rida-Nya. Lahir di kota yang indah, membawa kabar penuh berkah.
Menjadi sosok penuh teladan, mengajarkan kebenaran dan kebaikan. Dialah orang yang paling kami cintai, pembawa rahmat bagi seluruh alam. Kami rindu kepadamu, ya Nabi. Jadikanlah kami umatmu hingga akhir nanti.
Paras yang indah bagai bulan purnama, tak bosan mata memandang pesonanya. Aku sampai terdiam ketika berhadapan, bukan karena malu untuk menatap, namun karena kagum pada keindahan.
Setiap tindakan yang kau lakukan menjadi cahaya di tengah kegelapan. Pesonamu begitu luar biasa hingga tanpa disadari hati pun mudah jatuh cinta. Senyummu bagaikan cahaya yang menerangi ruang di sekitarnya.
Di sana aku tersadar betapa bahagianya seseorang yang kelak mendapatkanmu. Mumu, mahasiswa Pendidikan Agama Islam, aktif di Pagar Nusa, IPNU, KIS Arta, GP Ansor, dan Pramuka.
Ia terus mengembangkan kemampuan dan kepedulian terhadap pendidikan, keagamaan, kepemudaan, dan masyarakat. Puisi-puisinya seperti "Ayah yang Hebat", "Seorang Kakak", "Wanita yang Tegar", dan "Keadilan untuk Siapa?" menjadi bentuk ekspresi jujurnya.
Melalui karya, Mumu menuangkan perasaan dan pandangannya tentang kehidupan. Semoga puisi-puisinya menginspirasi kita semua untuk terus merenung dan berkarya.

Posting Komentar