Dinkes Abdya Catat 17 Kasus HIV/AIDS Sepanjang Tahun 2026, Pogram "Dokter Saweu Sikula" Jadi Kunci
Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mencatat 17 kasus HIV/AIDS sepanjang 2026 hingga Agustus. Dari jumlah itu, 10 orang berdomisili di Abdya dan menjalani pengobatan rutin di RSUD Teungku Peukan, sementara tujuh lainnya tercatat di luar kabupaten.
![]() |
| Ilustrasi Virus. Foto Tim Kreatif Abdya Times |
BLANGPIDIE — Kepala Dinkes Abdya, Ns. Rinaldi R, S.Kep., M.Kep., menegaskan bahwa angka ini menjadi pengingat bagi semua pihak. Menurutnya, pencegahan HIV/AIDS tidak bisa hanya dibebankan pada tenaga kesehatan, melainkan butuh keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.
"Yang terpenting adalah bagaimana kita melakukan upaya pencegahan, memberikan edukasi, serta memastikan penderita mendapatkan pengobatan secara rutin," kata Rinaldi kepada media, Senin (24/8/2026).
Rinaldi menjelaskan, pencegahan harus dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga, kemudian sekolah, hingga lingkungan masyarakat. Edukasi tentang kesehatan reproduksi, perilaku hidup sehat, faktor risiko, dan pentingnya pemeriksaan dini menjadi materi yang perlu disampaikan secara berkelanjutan.
"Pencegahan harus dilakukan bersama-sama, mulai dari keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat," ujarnya.
Salah satu upaya yang diandalkan adalah program Doto Saweu Sikula. Melalui program ini, Dinkes Abdya menyasar pelajar untuk memberikan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, bahaya narkoba, serta risiko penularan HIV.
Dinkes juga mengingatkan bahwa penularan HIV salah satunya melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian. Karena itu, generasi muda diharapkan mampu menghindari perilaku berisiko dan menjaga diri.
Selain aspek medis, penguatan karakter dan nilai keagamaan dinilai penting untuk membangun ketahanan moral generasi muda. Pendidikan agama di keluarga, sekolah, dayah, dan masyarakat menjadi benteng agar anak-anak mampu mengontrol diri.
"Kami mengimbau masyarakat agar dapat mengontrol diri, memperkuat nilai-nilai agama, menjauhi perilaku yang berisiko, serta menghindari penyalahgunaan narkoba," kata Rinaldi menambahkan.
Dinkes Abdya juga mengingatkan agar masyarakat tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Dukungan sosial, deteksi dini, dan kepatuhan berobat merupakan bagian penting dalam pengendalian penyakit ini.
Dengan demikian, kasus HIV/AIDS bukan semata persoalan medis, melainkan momentum bagi keluarga, sekolah, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat untuk bersama-sama memperkuat edukasi serta pembinaan generasi muda.
Pencegahan memang bukan tugas Dinkes seorang diri. Keluarga mendidik, sekolah mengedukasi, pemerintah menyediakan layanan, tokoh agama memperkuat nilai, dan masyarakat menciptakan lingkungan sehat tanpa stigma.(HK)

Posting Komentar